Rabu, 28 Juni 2017

Komplekku sepi; komplekku mati




Komplekku sepi; komplekku mati.
Sewaktu aku SD bermain setiap sore adalah hal yang lumrah. Aneh rasanya jika sore hari tidak ada teman yang memanggil untuk bermain. Entah untuk bermain petak umpet, petak jongkok, maupun benteng.

Ingat rasanya bermain setiap sore adalah momen yang paling ditunggu-tunggu karena bisa bertemu dengan teman-teman. Anak-anak memanggil satu sama lain sehingga komplekku ramai sekali. Sering kali mendengar suara teriak '1...2...3... Udah belom?!!' Namun lain halnya jaman sekarang. 

Jarang rasanya aku mendengar sorak-sorak bermain dan berteriak karena kalah. Pernah aku melihat sekumpulan anak SD justru sibuk memegang gadget masing-masing. Rindu rasanya mendengar hiruk pikuk anak-anak bermain. Sekarang komplekku sepi. Komplekku mati.

Aku rindu masa itu. Masa 2000-an.

Writing mentoring with Nadia Silvarani. Ditulis oleh Almaas. Minggu, 23 April 2017.